Minggu, 08 Desember 2013

Goresan Pilu di balik Malam

Bolehkah aku bercerita tentang rasa yang perlahan kukubur bersama pedihku?
Kini ia kembali menawarkan sejuta teka-teki yang membuat hati ini bimbang.
Kubukakah atau berbalik kututup semuanya.
Namun, bukankah rasa itu tak pernah ada kata maaf?
Ia ada untuk saling memahami??
Agh,, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus aku lakukan.
Yang pasti segenap rasa yang dulu kupersembahkan untukmu belum tentu kan kuhidangkan lagi di depan matamu.
Tolong! Jangan tawarkan madu jika yang kau berikan si buah kina.

Pernahkah engkau melihat sejuta luka yang kusimpan dibalik senyumku?
Jangan seolah tak tahu, ikatan batin yang tercipta tidaklah bisa hilang dengan begitu saja
Kutahu semenjak kau tahu isi hatiku dulu, kau semakin hari semakin giat menawarkan hatimu. Sungguh, itu terlambat.
Karena hati yang kau sakiti dahulu telah sembuh dan enggan untuk terluka lagi.
Hanya ingin duduk bersama, bercerita apa yang sesungguhnya terjadi.
Aku tak ingin lama-lama menilaimu dengan prasangka yang buruk.

Rasa yang tersimpan dibalik kedua bola matamu tak akan pernah kutahu karena aku tak pernah berani menatapmu lebih lama.
Kendati malam datang, aku tetaplah hari yang merindukan siang.
Apapun yang pernah kau lakukan, aku tetaplah aku yang menyimpan cerita indah bersamamu.

Berharap, apa yang terjadi sekarang menjadi jalan terbaik untukku dan untukmu.
Bukan hanya berat disebelah tangan dan tidak ada yang kecewa diantara dua hati yang terpisah.
Semoga dan semoga.
Selamat menunggu sang waktu menjawab kisahku yang berjeda.

Rabu, 20 November 2013

Secercah Isi Hati Dahulu



Di saat aku berkata
aku tak mengenalmu
maka di saat itulah aku mengingatmu



Di saat aku berkata aku tak membutuhkanmu lagi
maka di saat itulah aku menunggumu kembali



Di saat aku berkata jauhi aku
maka di saat itulah aku inginkan kau dekat denganku



Di saat aku menganggapmu hilang
maka di saat itulah aku tersiksa



Di saat aku berkata
rasa itu telah hilang
maka di saat itu aku sedang berbohong..






Note: goresan tinta yang menjadi saksi atas keterpurukanku waktu itu. Sekarang hanya mampu membacanya ulang dan tersenyum. Terlalu berlebihannya aku yang dulu. :)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Duhai Hujan







Oleh: Khanza Aliffia SP


Rintik hujan turun lagi
Episode-episodenya kembali berputar
Adegan bersambung
Kembali berlanjut

Mengalir tanpa henti
Setitik demi setitik ingatan hadir di tengah rintik hujan
Tak peduli banyak lara yang menganga
Yang menjadi saksi kisah berjeda

Duhai hujan yang menyimpan banyak cerita
Berhentilah! Izinkan aku untuk sekedar menata hati
Dan turunlah esok, saat aku tak lagi bisa menikmatimu
Menikmati cerita yang kan terus berlanjut selama hujan masih turun


Tatih Aku


Oleh: Khanza Aliffia SP

Tatih aku di saat aku mulai ringkih
Tersenyumlah kala aku mulai cemberut
Pangku aku ketika aku mulai letih memangku beban ini
Setiakan menerangiku ketika matahari enggan menyinariku
Niatkan bintang selalu menemani malamku ketika aku merasa benar-benar sendiri
Jalanku tak lagi berujung
Berliku
Berkelok
Sungguh meregam habis senyum yang senantiasa mengembang kala itu
Siapa yang bersedia mengusap lelehan air mata yang sedari tadi mengalir deras tanpa perintah dariku
Siapa yang hendak mengembalikan senyumku
Siapa yang dengan tulus melukis bintang kejora di mataku yang sedari tadi sembab
Akankah aku harus sendiri menunggu kesadaranmu
Tanpa berharap belas kasihmu
Dengarkan aku!
Aku hanya inginkan dirimu yang dulu datang kembali menyapaku
Berharap tuk sekedar mengingat masa lalu
ketika kita pernah bersama
Bercengkerama menelan ludah manis, asin, ataupun pahit kehidupan sekalipun
Apakah engkau mendengar rintihan hati yang sejak dahulu menginginkan engkau kembali
Ingatkah di saat engkau benar-benar meyakinkanku
Di saat engkau berani mengakuiku di depan muka ibumu
Di saat rasa malu ini harus segera kurapuhkan ketika saudaramu menanyakannya padaku
Namun di saat itulah aku mulai ringkih
Aku mulai lemah
Aku mulai tak berpegang lagi pada kayu cintaNya
Duhai yang pernah menghanyutkanku
Kembalikan aku ke dermagaku
Atau carikan nahkoda baru untukku
Jika kau enggan mengembalikanku
Dimana bukti rasa itu, jika engkau hanya meninggalku di jalan tak berpetunjuk arah
Hingga aku merasa asing di dunia ini.
Apakah rasa itu benar-benar tak berbekas
Dimana hati nuranimu?
Dimana sosok yang kukenal dulu?
Dimana muka polos yang pernah memperkenalkanmu kepadaku?
Akankah Anfa pOenyA_47 itu benar-benar hilang tanpa jejak?
Dan Anak Bebex Jelex serta Anak  Angsa Jelex itu terbawa deras arus waktu ini?
Biarkan waktu yang membantu menjawab tanyaku






















Minggu, 01 September 2013

Hilang


Oleh: Khanza Aliffia

Hilang...
Ada yang hilang
Hutan yang hijau membentang
Lautan yang menerawang

Berganti gedung tinggi menjulang
Mobil padat merayap
Jalanan yang tak berujung
Rumah-rumah kumuh menyelinap

Banjir datang menyapa
Longsor kerap hadir
Kebakaran tak mau kalah
Angin topan pun ikut serta

Manusia tak sadar perbuatannya
Yang merusak lingkungannya
Hewan dan tumbuhan merasa
Lingkungannya rusak karena manusia

Jika tak ada yang sadar diri
Sepantasnya ini yang dirasakan
Jika terus seperti ini
Apa yang akan diwariskan?



Pekatnya Udara



Termangu di sudut kota
Menghirup udara sesakkan dada
Tumpukan sampah berjajar ria
Menari-nari beradu tawa

Di ujung jalan
Di depan pertokoan
Di kolong-kolong jembatan
Dan di setiap selokan

Menghempas sesuka hati
Bukan tanpa arti melalu-lalang
Tak pernah menyalahkan diri
Menghardik banjir yang datang

Wahai manusia-manusia bergelar
Manusia yang berhati bak malaikat
Cobalah bergegas sadar
Udara yang dihirup begitu pekat

Sayangi pertiwi
Melangkah bersama
Sadarkan diri

Perbaiki udara

Sabtu, 24 Agustus 2013

Coretan Zaman Galau Dulu

Sabtu malam,24 November 2012

Sanggup sana meraih asa yang menggelamkan  cinta dalam hati
Dalam diam aku tertawa
Tentang hati yang kacau
Mulailah berfikir Karena hidup tidak berdiam dari masa lau
Berpacu ke depan dan bravo dunia masih bersahabat
Lihatlah dunia yang indah mengalun seirama semilir angin mendayu membawa suasana hati
Mata terperajat
Dan tangan meraih kenikmatan dunia sore itu

Semacam semangat baru menerkam jiwa
Mengajak bangkit dan tersenyum
Memejamkan secercah penyesalan dan mengalir bersama aliran air bersihkannya
Malam itu,
jiwa yang sepi kembali hadir di tengah-tengah mereka

Ayo jiwa yang terlahir kembali,
jangan mencari – cari  alasan
untuk tetap tepat pijakan 
Bersiap dan bergerak

Sepoi angin malam menyeringai mata binar
Lampu bernyanyi riang
Satu kekecewaan yang membuat berdiri seketika close
Laju
-melaju dan tertangkap
Menerkam dengan senyuman pengharapan
Hati tak dapat hanya diam
Menyambang hingga sapaan manis menggerakkan hati
Walaupun lebih dari 12 ton batu menggantung dalam senyap
Hanyut dan terhangut
Tangan hanya bergerak sesekali
Mata tak mampu berbohong
Dunia mengembalikanku ke alam yang terbuang jauh
Membenci atau menyukai adalah pilihan yang tak memberikan jawaban pasti

Kembali dan termenung
Hingga larut dalam dunia lain
Merasakan kehangatan yang seringkali wajah menjadi korban pelaku
Sedikit dan hanya sedikit memaksa aku tertawa bahagia