Bolehkah aku bercerita tentang rasa yang perlahan kukubur bersama
pedihku?
Kini ia kembali menawarkan sejuta teka-teki yang membuat hati
ini bimbang.
Kubukakah atau berbalik kututup semuanya.
Namun, bukankah
rasa itu tak pernah ada kata maaf?
Ia ada untuk saling memahami??
Agh,,
aku tak tahu apa yang sebenarnya harus aku lakukan.
Yang pasti segenap
rasa yang dulu kupersembahkan untukmu belum tentu kan kuhidangkan lagi
di depan matamu.
Tolong! Jangan tawarkan madu jika yang kau berikan si buah kina.
Pernahkah engkau melihat sejuta luka yang kusimpan dibalik senyumku?
Jangan seolah tak tahu, ikatan batin yang tercipta tidaklah bisa hilang dengan begitu saja
Kutahu semenjak kau tahu isi hatiku dulu, kau semakin hari semakin giat
menawarkan hatimu. Sungguh, itu terlambat.
Karena hati yang kau sakiti
dahulu telah sembuh dan enggan untuk terluka lagi.
Hanya ingin duduk bersama, bercerita apa yang sesungguhnya terjadi.
Aku
tak ingin lama-lama menilaimu dengan prasangka yang buruk.
Rasa yang tersimpan dibalik kedua bola matamu tak akan pernah kutahu karena aku tak pernah berani menatapmu lebih lama.
Kendati malam datang, aku tetaplah hari yang merindukan siang.
Apapun yang pernah kau lakukan, aku tetaplah aku yang menyimpan cerita indah bersamamu.
Berharap, apa yang terjadi sekarang menjadi jalan terbaik untukku dan untukmu.
Bukan hanya berat disebelah tangan dan tidak ada yang kecewa diantara dua hati yang terpisah.
Semoga dan semoga.
Selamat menunggu sang waktu menjawab kisahku yang berjeda.
Minggu, 08 Desember 2013
Rabu, 20 November 2013
Secercah Isi Hati Dahulu
Di saat aku berkata
aku tak
mengenalmu
maka di saat itulah aku mengingatmu
maka di saat itulah aku mengingatmu
Di saat aku berkata aku tak membutuhkanmu lagi
maka di saat itulah aku menunggumu kembali
Di saat aku berkata jauhi aku
maka di saat itulah aku inginkan kau dekat denganku
Di saat aku menganggapmu hilang
maka di saat itulah aku tersiksa
Di saat aku berkata
rasa itu
telah hilang
maka di saat itu aku sedang berbohong..
maka di saat itu aku sedang berbohong..
Note: goresan tinta yang menjadi saksi atas keterpurukanku waktu itu. Sekarang hanya mampu membacanya ulang dan tersenyum. Terlalu berlebihannya aku yang dulu. :)
Sabtu, 19 Oktober 2013
Duhai Hujan
Oleh: Khanza Aliffia SP
Rintik hujan turun lagi
Episode-episodenya
kembali berputar
Adegan
bersambung
Kembali
berlanjut
Mengalir
tanpa henti
Setitik demi
setitik ingatan hadir di tengah rintik hujan
Tak peduli
banyak lara yang menganga
Yang menjadi
saksi kisah berjeda
Duhai hujan
yang menyimpan banyak cerita
Berhentilah!
Izinkan aku untuk sekedar menata hati
Dan turunlah
esok, saat aku tak lagi bisa menikmatimu
Menikmati
cerita yang kan terus berlanjut selama hujan masih turun
Tatih Aku
Oleh: Khanza Aliffia SP
Tatih aku di saat aku
mulai ringkih
Tersenyumlah kala aku mulai cemberut
Pangku aku ketika aku mulai letih memangku beban ini
Setiakan menerangiku ketika matahari enggan menyinariku
Niatkan bintang selalu menemani malamku ketika aku merasa benar-benar sendiri
Jalanku tak lagi berujung
Berliku
Berkelok
Sungguh meregam habis senyum yang senantiasa mengembang kala itu
Siapa yang bersedia mengusap lelehan air mata yang sedari tadi mengalir deras tanpa perintah dariku
Siapa yang hendak mengembalikan senyumku
Siapa yang dengan tulus melukis bintang kejora di mataku yang sedari tadi sembab
Akankah aku harus sendiri menunggu kesadaranmu
Tanpa berharap belas kasihmu
Tersenyumlah kala aku mulai cemberut
Pangku aku ketika aku mulai letih memangku beban ini
Setiakan menerangiku ketika matahari enggan menyinariku
Niatkan bintang selalu menemani malamku ketika aku merasa benar-benar sendiri
Jalanku tak lagi berujung
Berliku
Berkelok
Sungguh meregam habis senyum yang senantiasa mengembang kala itu
Siapa yang bersedia mengusap lelehan air mata yang sedari tadi mengalir deras tanpa perintah dariku
Siapa yang hendak mengembalikan senyumku
Siapa yang dengan tulus melukis bintang kejora di mataku yang sedari tadi sembab
Akankah aku harus sendiri menunggu kesadaranmu
Tanpa berharap belas kasihmu
Dengarkan aku!
Aku hanya inginkan dirimu yang dulu datang kembali menyapaku
Berharap tuk sekedar mengingat masa lalu
ketika kita pernah bersama
Bercengkerama menelan ludah manis, asin, ataupun pahit kehidupan sekalipun
Apakah engkau mendengar rintihan hati yang sejak dahulu menginginkan engkau kembali
Aku hanya inginkan dirimu yang dulu datang kembali menyapaku
Berharap tuk sekedar mengingat masa lalu
ketika kita pernah bersama
Bercengkerama menelan ludah manis, asin, ataupun pahit kehidupan sekalipun
Apakah engkau mendengar rintihan hati yang sejak dahulu menginginkan engkau kembali
Ingatkah di saat engkau
benar-benar meyakinkanku
Di saat engkau berani mengakuiku di depan muka ibumu
Di saat rasa malu ini harus segera kurapuhkan ketika saudaramu menanyakannya padaku
Namun di saat itulah aku mulai ringkih
Aku mulai lemah
Aku mulai tak berpegang lagi pada kayu cintaNya
Di saat engkau berani mengakuiku di depan muka ibumu
Di saat rasa malu ini harus segera kurapuhkan ketika saudaramu menanyakannya padaku
Namun di saat itulah aku mulai ringkih
Aku mulai lemah
Aku mulai tak berpegang lagi pada kayu cintaNya
Duhai yang pernah
menghanyutkanku
Kembalikan aku ke
dermagaku
Atau carikan nahkoda baru untukku
Jika kau enggan mengembalikanku
Dimana bukti rasa itu, jika engkau hanya meninggalku di jalan tak berpetunjuk arah
Hingga aku merasa asing di dunia ini.
Apakah rasa itu benar-benar tak berbekas
Dimana hati nuranimu?
Dimana sosok yang kukenal dulu?
Dimana muka polos yang pernah memperkenalkanmu kepadaku?
Akankah Anfa pOenyA_47 itu benar-benar hilang tanpa jejak?
Dan Anak Bebex Jelex serta Anak Angsa Jelex itu terbawa deras arus waktu ini?
Biarkan waktu yang membantu menjawab tanyaku
Atau carikan nahkoda baru untukku
Jika kau enggan mengembalikanku
Dimana bukti rasa itu, jika engkau hanya meninggalku di jalan tak berpetunjuk arah
Hingga aku merasa asing di dunia ini.
Apakah rasa itu benar-benar tak berbekas
Dimana hati nuranimu?
Dimana sosok yang kukenal dulu?
Dimana muka polos yang pernah memperkenalkanmu kepadaku?
Akankah Anfa pOenyA_47 itu benar-benar hilang tanpa jejak?
Dan Anak Bebex Jelex serta Anak Angsa Jelex itu terbawa deras arus waktu ini?
Biarkan waktu yang membantu menjawab tanyaku
Minggu, 01 September 2013
Hilang
Oleh: Khanza
Aliffia
Hilang...
Ada yang
hilang
Hutan yang
hijau membentang
Lautan yang
menerawang
Berganti
gedung tinggi menjulang
Mobil padat
merayap
Jalanan yang
tak berujung
Rumah-rumah
kumuh menyelinap
Banjir
datang menyapa
Longsor
kerap hadir
Kebakaran
tak mau kalah
Angin topan
pun ikut serta
Manusia tak
sadar perbuatannya
Yang merusak
lingkungannya
Hewan dan
tumbuhan merasa
Lingkungannya
rusak karena manusia
Jika tak ada
yang sadar diri
Sepantasnya
ini yang dirasakan
Jika terus
seperti ini
Apa yang
akan diwariskan?
Pekatnya Udara
Termangu
di sudut kota
Menghirup
udara sesakkan dada
Tumpukan
sampah berjajar ria
Menari-nari
beradu tawa
Di
ujung jalan
Di
depan pertokoan
Di
kolong-kolong jembatan
Dan
di setiap selokan
Menghempas
sesuka hati
Bukan
tanpa arti melalu-lalang
Tak
pernah menyalahkan diri
Menghardik
banjir yang datang
Wahai
manusia-manusia bergelar
Manusia
yang berhati bak malaikat
Cobalah
bergegas sadar
Udara
yang dihirup begitu pekat
Sayangi
pertiwi
Melangkah
bersama
Sadarkan
diri
Perbaiki
udara
Sabtu, 24 Agustus 2013
Coretan Zaman Galau Dulu
Sabtu malam,24 November 2012
Sanggup sana meraih asa yang menggelamkan cinta dalam hati
Dalam diam aku tertawa
Tentang hati yang kacau
Mulailah berfikir Karena hidup tidak berdiam dari masa lau
Berpacu ke depan dan bravo dunia masih bersahabat
Lihatlah dunia yang indah mengalun seirama semilir angin mendayu membawa suasana hati
Mata terperajat
Dan tangan meraih kenikmatan dunia sore itu
Semacam semangat baru menerkam jiwa
Mengajak bangkit dan tersenyum
Memejamkan secercah penyesalan dan mengalir bersama aliran air bersihkannya
Malam itu, jiwa yang sepi kembali hadir di tengah-tengah mereka
Ayo jiwa yang terlahir kembali, jangan mencari – cari alasan
untuk tetap tepat pijakan
Bersiap dan bergerak
Sepoi angin malam menyeringai mata binar
Lampu bernyanyi riang
Satu kekecewaan yang membuat berdiri seketika close
Laju-melaju dan tertangkap
Menerkam dengan senyuman pengharapan
Hati tak dapat hanya diam
Menyambang hingga sapaan manis menggerakkan hati
Walaupun lebih dari 12 ton batu menggantung dalam senyap
Hanyut dan terhangut
Tangan hanya bergerak sesekali
Mata tak mampu berbohong
Dunia mengembalikanku ke alam yang terbuang jauh
Membenci atau menyukai adalah pilihan yang tak memberikan jawaban pasti
Kembali dan termenung
Hingga larut dalam dunia lain
Merasakan kehangatan yang seringkali wajah menjadi korban pelaku
Sedikit dan hanya sedikit memaksa aku tertawa bahagia
Sanggup sana meraih asa yang menggelamkan cinta dalam hati
Dalam diam aku tertawa
Tentang hati yang kacau
Mulailah berfikir Karena hidup tidak berdiam dari masa lau
Berpacu ke depan dan bravo dunia masih bersahabat
Lihatlah dunia yang indah mengalun seirama semilir angin mendayu membawa suasana hati
Mata terperajat
Dan tangan meraih kenikmatan dunia sore itu
Semacam semangat baru menerkam jiwa
Mengajak bangkit dan tersenyum
Memejamkan secercah penyesalan dan mengalir bersama aliran air bersihkannya
Malam itu, jiwa yang sepi kembali hadir di tengah-tengah mereka
Ayo jiwa yang terlahir kembali, jangan mencari – cari alasan
untuk tetap tepat pijakan
Bersiap dan bergerak
Sepoi angin malam menyeringai mata binar
Lampu bernyanyi riang
Satu kekecewaan yang membuat berdiri seketika close
Laju-melaju dan tertangkap
Menerkam dengan senyuman pengharapan
Hati tak dapat hanya diam
Menyambang hingga sapaan manis menggerakkan hati
Walaupun lebih dari 12 ton batu menggantung dalam senyap
Hanyut dan terhangut
Tangan hanya bergerak sesekali
Mata tak mampu berbohong
Dunia mengembalikanku ke alam yang terbuang jauh
Membenci atau menyukai adalah pilihan yang tak memberikan jawaban pasti
Kembali dan termenung
Hingga larut dalam dunia lain
Merasakan kehangatan yang seringkali wajah menjadi korban pelaku
Sedikit dan hanya sedikit memaksa aku tertawa bahagia
Langganan:
Postingan (Atom)


